Informasi Seputar Indonesia

Surga Tersembunyi dari Gunung Kidul

28 Apr 2017 - 09:58 WIB

Hiruk pikuk suasana kota, membuat sebagian orang jenuh, bosan dan membutuhkan suasana baru. Rasa-rasanya Ngetun tahu soal itu. Rasa-rasanya, Ngetun mampu menjawab persoalan itu. Tidak perlu jauh-jauh, tidak perlu biaya mahal, Ngetun ada di dekat kita. Ngetan-ngetun, ngetan-ngetun, siapa sih dia? Seberapa hebat dirinya sehingga mampu menghilangkan rasa jenuh orang-orang kota? Apa kemampuan yang dimilikinya? Ah, semakin membuat penasaran.

Ngetun, katanya dirimu dikelilingi pohon kelapa nan tinggi menjulang. Ngetun, katanya dirimu berteman dengan angina yang mampu mengundang orang untuk datang menemuimu. Ngetun, katanya teman mainmu adalah air, pasir dan sepi. Sepi? Mengapa kamu berteman dengan sepi, Ngetun? Katanya dirimu cantik, indah dan membuat orang terpana ketika melihat pesonamu. Jika kata mereka kamu seperti itu, mengapa kamu merasa kesepian? Bolehkah kita manusia datang kepadamu, Ngetun?

Ngetun, saat ini kita sedang menuju padamu. Kamu bilang, dirimu ada di sekitaran daerah Gunung Kidul. Tunggu, sekitar 70 km lagi kita akan menggapaimu dari pusat kota Yogyakarta. Jangan pasang dulu, jangan bergejolak dulu, tetap tenang, mengalir dan sepi. Biarlah rasa penasaran ini menghampiri, sebelum hari berganti.

Dua jam sudah kita berkeliling berputar mengelilingi Gunung Kidul, tapi kamu tak ditemukan juga. Udara panas khas daerah pesisir pun mulai menghampiri kulit, keringat lah badan dibuatnya. Hingga pada akhirnya, setengah jam berlalu, terlihat lah sebuah plang penanda. Dalam plang itu, kita melihat namamu berjejer di antara nama-nama lain seperti Siung dan Wediombo. Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, tempat di mana kamu berada menyendiri. Kita harus bersemangat, plang sudah terlihat, kita pasti sebentar lagi sampai.

Selang beberapa lama, motor matic ini rasa-rasanya tidak kuat lagi menapaki jalan yang kamu berikan. Apakah ini kata sambut darimu, Ngetun? Kini kita tahu, mengapa kamu terpencil dan seolah-olah terasingkan. Akses untuk bertemu denganmu masih sangat ekstrim. Motor matic ini sudah lelah berkali-kali menabrak dan menapaki jalan bebatuan. Semua akan berubah total apabila ban belakang motor ini bocor, tambal ban tidak menjadi solusi. Butuh tenaga ekstra untuk mendorong motor berpuluh-puluh kilometer hingga sampai ke tukang tambal ban.

Medan yang rusak mulai terlihat, tapi pantai tak kunjung sampai. Jalan berbatu yang mengantar kami bertemu denganmu. Tak disangka, laut biru mulai terlihat, sungguh sebuah keindahan yang membuat kita semakin bersemangat untuk sampai ke bawah. Letakmu yang diapit kedua bukit membuat mata kita manusia menjadi semakin tertantang untuk menelusuri setapak demi setapak jalan berbatu. Meski itu dirasa sulit, pada akhirnya sampai juga.

Indah, biru, sepi, damai mungkin sebagian besar orang akan berkata seperti itu ketika pertama kali menginjakkan kakinya di sini. Segala jalan berbatu dan rute yang sangat ekstrim dan terpencil, sangat membuat orang puas ketika melihat pesona yang kamu bawa, Ngetun. Tak heran, banyak orang yang bilang kamu tampak seperti teluk mungil yang indah, lantaran kamu diapit dua bukit tinggi nan hijau

Wah, ternyata di sini kamu tidak sendirian, tun. Ada Pak Sakip yang menemanimu, dia penjagamu, ya? Dia bilang, nama aslimu bukan Ngetun, tapi Ngitun. Kata Ngetun sudah terlanjur tenar di mata sebagian orang yang pernah mengunjungimu. Lantas, apa arti kata Ngitun? Sakip, yang setiap hari menjagamu ini berkata bahwa Ngitun berasal dari kata ngintun yang berarti mengintip (bahasa Sunda, Jawa).

“Pantai Ngetun ini aslinya bernama Ngitun, dari asal kata ngintun artinya ngintip, tapi bisa juga ngirim, jadi orang yang ke sini itu seperti mengintip ada pantai bagus lalu mengirim pesan ke teman-temannya untuk ke sini, mas,” kata Sakip sembari melihat ombak nan tenang di pantai ini. Pria bertubuh tegap ini kembali menceritakan sejarah tentang kamu, Ngetun.

Ia bercerita bahwa memang banyak orang yang belum mengetahui keberadaan pantai ini, dikarenakan memang rute yang tidak sampai-sampai sehingga orang lantas merasa capai duluan. Ditambah dengan jalan masuk yang sangat sulit untuk dituju, ekstrim dan butuh transportasi sepeda motor yang kuat.

Ngetun sendiri memang belum memiliki tiket masuk atau retribusi, semua berdasarkan sukarela dan dibangun oleh gotong royong warga sekitar. Meski begitu, Sakip melanjutkan jika Ngetun kini sudah mulai diketahui orang, kebanyakan orang yang berkunjung ke sini biasanya melakukan kegiatan camping setiap Sabtu Minggu. “Tiap Sabtu Minggu cukup ramai mas, bisa 4-5 orang yang ngecamp di sini, biasanya mereka ingin ketenangan, kan memang pantai ini masih sepi,” jelas Sakip dengan penuh semangat. Terbayar sudah kejenuhan yang orang-orang kota rasa.

Terbayar sudah kebosanan akan hiruk pikuk kota. Terbayar sudah keragu-raguan dan ketakutan tidak sampai bertemu denganmu, Ngetun. Sekarang saatnya melihat dan menikmati pesona yang kamu punya. Birunya laut, angin berhembus, desir pasir, kini terasa begitu akrab dan berbeda. Pasir pantaimu nan putih dan belum nampak jejak-jejak kaki manusia, semakin membuat hati menjadi tenang, senang. Pasir pantainya juga lembut dan tidak padat seperti pantai-pantai yang telah dibuka pada umumnya.

Angin semakin teduh, ingin rasanya menginap di sini. Tapi apa daya, kerjaan di kota memanggil kembali untuk pulang, kembali ke rutinitas yang cukup membosankan. Tapi, kita pasti kembali menemuimu, Ngetun. Tetaplah menjadi surga tersembunyi nan indah, agar orang tahu masih ada tempat seperti surga di dunia ini.


TAGS   lifestyle /


Tulisan Terbaru

Recent Coments