Informasi Seputar Indonesia

Ridwan Kamil untuk Presiden

5 Apr 2017 - 07:13 WIB

WARGA Bandung dan masyarakat Jawa Barat, bahkan bangsa Indonesa pada umumnya sangat bangga dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Popularitas dan prestasinya menempatkan dia pada papan atas pemimpin terbaik di negeri ini. Itulah sebabnya, penulis yakin, apa pun yang diinginkan Emil (panggilan akrab Ridwan Kamil) akan dikabulkan masyarakat. Jangankan menjadi Gubernur Jawa Barat, menjadi Gubernur DKI Jakarta sekalipun tidak terlalu sulit jika dalam Pilkada DKI 2017 ini, Emil terjun mengikuti kontestasi. Bahkan jika dia bersedia maju menjadi presiden pun, masyarakat Jabar akan gegap gempita mendukungnya.

Emil merupakan fenomena baru dalam pemerintahan yang berhasil mempertemukan antara birokrasi dengan masyarakat. Birokrasi selama ini dikesankan sebagai lembaga yang kaku, lambat, dan tertutup. Sementara masyarakat modern menuntut pelayanan yang serba cepat, prima, transparan dan akuntabel. Namun kesan buruknya birokrasi itu cair saat Emil menjadi Wali Kota Bandung. Menggunakan teknologi informasi, Emil mengubah wajah birokrat yang sok menak menjadi lebih merakyat. Aparatur harus responsif terhadap kehendak rakyat yang setiap saat menunjuk-nunjuk kesalahan pemerintah melalui media sosial. Program kerja Emil juga sangat populis. Julukan sebagai “Wagiman (Wali Kota Gila Taman)” menunjukkan, dia mengerti keinginan rakyat. Itulah sebabnya, rakyat mempunyai ekspektasi yang sangat tinggi terhadap Emil.

Bagi masyarakat Sunda, Wali Kota Bandung persis seperti Persib. Kapan pun dan di mana pun bertanding, Persib harus menang. Masyarakat Jabar ingin menyaksikan pemain Persib memasukkan bola ke gawang lawan. Rakyat ingin berjingkrak-jingkrak sembari meloncat histeris manakala Persib mencetak gol indah ke jala musuh. Rakyat tak suka Persib dan Emil kalah. Masyarakat sangat sayang dan mencintai Persib bersama Emil. Itulah sebabnya, masyarakat terhenyak ketika tiba-tiba Emil mendeklarasikan diri menjadi bakal calon Gubernur Jawa Barat bersama Partai Nasdem. Duh, Ridwan Kamil. Apakah ini tidak tergesa-gesa?

Bahwa Emil akan maju menjadi calon Gubernur Jabar, insya Allah, rakyat tidak akan mengkhianati. Tapi maju bersama Nasdem menjadi tanda tanya banyak pihak. Pertama, Emil mengesankan sebagai kacang yang lupa akan kulitnya. Maju sebagai Wali Kota Bandung bersama Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera, mengapa tidak menggunakan partai yang sama saat maju menjadi gubernur? Jika kurang mantap, Emil bisa memperluas koalisi dengan partai lain yang bersedia. Penulis yakin tidak akan sulit. Sebaliknya, justru parpol yang akan “mengejar-ngejar” Emil sebagai calonnya.

Kedua, Partai Nasdem tidak cukup sendirian mengantarkan Emil menjadi calon Gubernur Jawa Barat. Masih dibutuhkan koalisi yang lebih besar. Tapi koalisi besar kemungkinan tidak terlalu sulit. Sebab Ketua Umum Nasdem Surya Paloh turun langsung ke lapangan. Konfigurasi koalisi partai politik di tingkat nasional tidak mustahil diturunkan untuk koalisi di Jawa Barat, sehingga Nasdem didukung PDI Perjuangan, Partai Hanura, Partai Kebangkitan Bangsa, dan PKPI.

Ketiga, yang paling mengecewakan pendukung Emil adalah penandatanganan perjanjian sebelum deklarasi. Poin satu dan dua yang isinya menjadi benteng Pancasila dan netral dari partai politik tidaklah menjadi masalah. Poin tiga yang menimbulkan penafsiran beragam. Sebab, Emil harus mampu mengonsolidasikan roda pemerintahan di bawah dirinya. Dengan begitu, masyarakat diharapkan dapat memahami arti pembangunan nasional sekaligus mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam mempercepat proses pembangunan sekaligus persiapan Pemilihan Presiden 2019.

Mungkin Emil dan Surya Paloh mempunyai penafsiran masing-masing, namun masyarakat awam memahami bahwa Nasdem mendukung Emil menjadi Gubernur Jabar jika pemerintah yang dipimpin Emil mendukung kepemimpinan Joko Widodo. Poin ini meruntuhkan semangat pendukung Emil. Itulah sebabnya, suara mereka di media sosial sangat gaduh, dan tak sedikit yang mengurungkan pertemanannya di media sosial.

Dua kekuatan

Sejak Pemilu Presiden 2014, rakyat Indonesia terpola menjadi dua kekuatan, Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih. Walaupun presiden sudah terpilih selama tiga tahun, namun konflik dan saling ejek di antara pendukungnya belum reda. Masyarakat selama ini menggadang-gadang Emil menjadi koalisi tengah yang dapat menjadi alternatif sejuk dan dapat menampung suara dari kedua belah pihak. Dengan jaminan dukungan Emil terhadap Presiden Jokowi, maka habislah harapan itu.

Duh, Emil terlalu tergesa-gesa membuat keputusan, walaupun Pilkada Jabar memang sudah di depan mata. Padahal, Ki Sunda ingin bersorak sorai mengantarkanmu ke Istana Presiden seperti saat mereka girang tak alang kepalang saat menyaksikan Persib memenangi pertandingan. Ki Sunda juga ingin menyaksikan putera terbaiknya menjadi Presiden Republik Indonesia. Kita tidak ingin Emil seperti bunga yang layu sebelum berkembang.

Idrus Affandi


TAGS   opini /


Tulisan Terbaru

Recent Coments