Informasi Seputar Indonesia

Pers di Tengah Pusaran Korupsi

9 Feb 2017 - 16:33 WIB

HARI ini (Kamis, 9 Februari 2017) kita kembali memperingati Hari Pers Nasional (HPN). Di tengah banjirnya kasus korupsi yang melanda bangsa kita, tidak ada harapan yang tersemai dalam diri kita pada peringatan kali ini, melainkan terwujudnya pers dalam bentuknya media massa yang mampu dan konsisten menjadi garda depan dalam ikut membantu penegakan hukum di Indonesia.

Di saat publik nyaris kehilangan kepercayaan kepada lembaga-lembaga penegak hukum permanen (kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman), dan mungkin juga lembaga penegak hukum non-permanen (KPK), keberadaan pers yang merupakan salah satu pilar tegaknya demokrasi, diharapkan mampu menjadi penyambung dan penyampai hati nurani rakyat yang mendambahkan tegaknya keadilan hukum di negeri ini.

Apalagi akhir-akhir ini kita menyaksikan keberhasilan pers dalam memberitakan perkara-perkara korupsi, suap, penyucian uang, mafia hukum, mafia pajak, dan berbagai kasus hukum lainnya yang merupakan pencapaian tertinggi dari segi jurnalistik. Dari pemberitaan tersebut, rakyat menjadi tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan penyelenggaraan negara selama ini.

Hingga saat ini, pers masih dipandang sebagai lokomotif yang mendorong upaya perbaikan penyelenggaraan negara yang selama ini telah porak-poranda akibat perilaku korup pejabat negara. Dalam sorotan pers, berbagai bentuk perilaku penghianatan terhadap bangsa (baca: korupsi) yang melibatkan para penyelenggara negara, baik pusat maupun daerah, kini sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Publik sudah mengetahui secara jelas dan gamblang melalui berita yang disajikan para pekerja media massa.

Dengan dukungan teknologi yang semakin canggih sebuah isu atau kasus bisa segera menyebar dengan cepat melalui media online seperti internet, selain media berbasis elektronik (seperti televisi atau radio) dan media berbasis cetak (seperti koran atau majalah).

Dinamika informasi

Cepatnya dinamika informasi melalui media massa ini membuat pengungkapan kasus korupsi dan praktik-praktik kejahatan lainnya menggelinding begitu bergegas. Perkara korupsi yang melibatkan sejumlah kepala daerah di seluruh Indonesia menjadi informasi yang selalu menarik, sekaligus menyedihkan bagi publik lantaran hampir setiap bulan, bahkan setiap hari, muncul pemberitaan kepala daerah atau penguasa tingkat ibu kota yang telah menjadi “maling-maling uang rakyat”.

Kita patut bangga sekaligus berterima kasih pada pers karena telah mampu mengungkap kasus-kasus hukum tersebut dan mampu mendedahkan kebobrokan para penyelenggara negara yang selama ini disembunyikan dari publik. Kita juga perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada awak media massa yang selalu bekerja keras demi keadilan dan kebenaran hukum di negeri ini.

Oleh karena itu, pers harus terus menyampaikan informasi yang faktual dan aktual kepada publik tentang kocar-kacirnya penyelenggaraan negara agar masyarakat Indonesia mengetahui apa yang terjadi dengan negara ini dan apa yang sebenarnya dilakukan para penguasa selama ini. Kebenaran dan keadilan harus terus diungkap oleh media massa meskipun langit akan runtuh.

Sebagai saluran mendapatkan informasi dan mengekpresikan pendapat, pers Indonesia sebenarnya sudah cukup baik dalam memberikan informasi kepada masyarakat dan memberi ruang bagi publik untuk beropini, berpendapat, dan menyampaikan gagasan secara bebas dan merdeka. Maka, capaian ini sudah seharusnya dipertahankan dengan tetap mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan-kepentingan lainnya (misalnya politik dan ekonomi). Kepentingan publik harus tetap diutamakan.

Tiga kepentingan

Berbicara tentang kepentingan pers (media massa), setidaknya ada tiga kepentingan. Pertama, kepentingan politik. Dalam teori media massa sebagai teori politik, sudah menjadi rahasia umum bahwa media massa acapkali menjadi alat politik yang bisa dimanfaatkan individu atau kelompok tertentu. Sehingga kepentingan politik kelompok tertentu misalnya partai politik, atau bahkan seorang individu sekalipun bisa tersalurkan.

Seringkali kita masih menyaksikan informasi penting yang seharusnya diketahui oleh publik, ditutup-tutupi atau disembunyikan karena kepentingan politik tertentu. Atas dalih menjaga nama baik pemilik media massa atau orang-orang tertentu misalnya, media lantas tidak menyajikan berita atau informasi tersebut ke hadapan publik. Ini tentu menghambat kebebasaan mendapatkan informasi yang transparan. Dan media massa harus menghindari kepentingan-kepentingan politik seperti ini.

Kedua, kepentingan ekonomi. Tidak bisa disangkal bahwa media massa muncul karena kepentingan ekonomi. Mereka ingin mendapat keuntungan dari berbagai informasi yang didapat dan disebarkan kepada masyarakat. Dan tak jarang, demi kepentingan ekonomi (komersil) ini, media massa lantas terjebak pada kekesaatan informasi karena disuap oleh orang-orang tertentu sehingga media memberikan informasi yang salah, memelintir isi berita atau menyelewengkan informasi, dan pada akhirnya menyesatkan masyarakat luas. Ini juga tidak boleh terjadi dalam dunia pers.

Dan ketiga, kepentingan publik. Seringkali, demi kepentingan politik dan ekonomi, media massa lantas mengabaikan kepentingan publik sebagai kepentingan ilmu pengetahuan dan pencerahan. Insan-insan pers kerapkali terjebak hanya pada kepentingan politik dan ekonomi saja. Padahal, kepentingan publik inilah yang seharusnya lebih diutamakan, didahulukan, dan dinormosatukan di atas kepentingan-kepentingan yang lain.

Intinya, keberadaan pers Indonesia harus mampu mencerminkan harapan masyarakat sebagai saluran untuk mendorong penegakan hukum dan terciptanya pemerintahan yang bersih di negara ini. Agenda-agenda penting kenegaraan harus menjadi komitmen dan keseriusan pers untuk mewujudkannya dengan cara mengabarkan secara terus-menerus.

Akhirnya, kita semua berharap dengan peringatan HPN kali ini, pers Indonesia dalam wujudnya media massa, masih tetap mau menjadi “pendekar hukum” yang secara berani dan objektif mengungkap kejahatan-kejahatan besar, terutama korupsi, yang sampai saat ini masih saja dilakukan oleh sebagian pengurus negara Indonesia tercinta ini. Selamat Hari Pers Nasional 2017


TAGS   opini /


Comment

Tulisan Terbaru

Recent Coments