Informasi Seputar Indonesia

Sering Lelah? Bisa Jadi Anda Sakit Medis atau Psikis

14 Aug 2016 - 22:07 WIB

Sering Lelah atau Sindrom Lelah Kronik?

Rasa lelah dapat merupakan suatu keadaan normal tubuh yang berhubungan dengan aktivitas fisik maupun psikis. Namun dapat juga menjadi suatu gejala penyakit yang mendorong seseorang untuk berobat ke dokter, karena alasan selalu lelah atau juga lelah yang berkepanjangan.

Namun masalah yang sering dihadapi tenaga medis adalah bila setelah dilakukan penelusuran diagnosis ternyata tidak ditemukan adanya gangguan organ yang spesifik dan pengobatan yang diberikan tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Yang menjadi dilema adalah bagaimana menentukan bahwa pasien ini hanya sering merasa lelah atau ternyata pasien ini menderita sindrom lelah kronik.

Secara sederhana, kadangkala pasien memang sering merasa lelah karena tuntutan beban kerja yang tinggi, namun jika kelelahan tersebut menghilang dengan istirahat yang cukup, maka hal tersebut bukan suatu keadaan abnormal. Atau memang diketahui bahwa pasien sedang sakit atau sedang mengidap suatu penyakit sehingga sering merasa lelah, maka hal tersebut juga bisa dijelaskan penyebab kelelahannya. Dalam hal ini berarti jika seseorang sering mengalami kelelahan tapi didapatkan penjelasan yang logis, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pasien sering lelah, untuk mengatasinya adalah menyelesaikan penyebab dasarnya.

 

Jika terjadi kumpulan gejala dengan keluhan utama rasa lelah yang lama dan terus menerus disertai dengan gejala fisik dan neuropsikologis, mengganggu aktivitas sehari-hari dan cenderung terganggunya pekerjaan maka kita harus mencurigai bahwa orang tersebut menderita sindrom lelah kronik.

Penyebab dan Mendiagnosa Sindrom Lelah Kronik

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab utama sindrom lelah kronik. Beberapa hipotesis menyebabkan bahwa yang mendasari terjadinya sindrom lelah kronik antara lain pasca infeksi virus (Epstein-Barr Virus dan Sitomegalovirus), faktor imunologi, faktor hormonal (penurunan kadar kortisol), faktor psikososial (depresi ataupun cemas).

Ada beberapa tools untuk mendiagnosis Sindrom Lelah Kronik, salah satunya berdasarkan kriteria Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyatakan untuk mendiagnosis kerja sindrom lelah kronik adalah:

Terdapat 2 kriteria mayor dan ≥ 6 kriteria gejala minor + ≥ 2 kriteria fisik minor atau ≥ 8 kriteria gejala.

Kriteria Mayor

Kelelahan persisten atau relaps atau mudah jatuh yang mana: Tidak hilang dengan istirahat Aktivitas fisik harian berkurang ≥ 50% Tidak didapatkan penyakit kronik lainnya, termasuk terdapat penyakit kejiwaan sebelumnya.

Kriteria Minor

Gejala:

Demam ringan (37.5-38.6 derajat celcius)

Sakit tenggorokan

Pembesaran kelenjar getah bening di leher atau ketiak

Kelelahan otot menyeluruh yang tidak dapat dijelaskan

Ketidaknyamanan otot, nyeri otot

Lelah berkepanjangan (≥ 24 jam) disertai gangguan aktivitas

Sakit kepala menyeluruh

Gangguan neurofisiologis: takut sinar, bingung, sulit berfikir, represi

Migrain, nyeri sendi tanpa inflamasi

Gangguan tidur

Dapat terjadi akut atau sub akut

Temuan Fisik:

Demam level rendah

Faringitis tanpa eksudat

Teraba pembesaran kelenjar getah bening di leher atau ketiak (diameter < 2 cm).

Kriteria tersebut mudah untuk dipahami bahkan untuk orang awam sekalipun, sehingga jika pembaca mengalami tanda dan gejala seperti hal di atas dan memenuhi kriteria Sindrom Lelah Kronik, sangat dianjurkan untuk pergi ke dokter dan bersama-sama mencari penanganan yang tepat.

Latihan dan Rehabilitasi Fisik adalah terapi yang sangat membantu

Sebelumnya terapi ini masih banyak menimbulkan perdebatan karena dianggap pada pasien dengan sindrom lelah kronik justru terjadi kelemahan yang menyeluruh. Sehingga anjuran terapi untuk melakukan aktivitas fisik adalah tindakan yang sia-sia saja.

Namun seiring perjalanan dan banyaknya penelitian yang salah satunya menyatakan bahwa penampilan otot pasien dengan sindrom lelah kronik adalah normal, karena rasa lelah yang berlebihan lebih berhubungan dengan gangguan neuropsikologis, maka terapi latihan fisik tidak berbahaya dan justru dianjurkan.

Saat terjadi sindrom lelah kronik, melakukan istirahat yang berlebihan, kurang melakukan aerobic/fitness dan berkurangnya kontak sosial justru makin memperburuk perjalanan penyakit.

Beberapa pasien melaporkan pada awalnya aktivitas fisik seakan memperburuk gejala-gejala yang ada, tetapi dengan latihan yang bertahap menghasilkan perbaikan yang berarti. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa istirahat yang berlebihan justru menambah perasaan lelah dan meningkatkan risiko terjadinya depresi.

Terapi lainnya sesuai kondisi medis sesuai anjuran dokter

Banyak terapi suportif lainnya untuk sindrom lelah kronik, salah satunya adalah pemberian obat-obatan jika terjadi gangguan psikosomatik yang mendasari. Jika didapatkan gejala depresi pada pasien, maka pemberian antidepresan dapat diindikasi.

Begitu pula terapi obat-obatan simptomatik seperti antinyeri (analgetik) pada kasus terdapat nyeri sendi dan nyeri otot, antihistamin pada kasus disertai alergi dan sinusitis, ataupun pemberian multivitamin dan mineral masih boleh diberikan namun tidak terus menerus dan bukan terapi utama.

Yang justru diperhatikan adalah perawatan klinis pada pasien merupakan kunci keberhasilan terapi yaitu dengan: memberikan perhatian dan dukungan yang cukup, mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan sabar terhadap keluhan yang ada, memberikan empati dan kehangatan, memberikan edukasi tentang pola hidup sehat (menghindari stress, mencari pekerjaan yang disukai, latihan teratur, istirahat cukup tidak berlebihan), hal tersebut akan memberikan dorongan positif untuk kesembuhan.

Penutup

Sindrom Lelah Kronik merupakan penyakit psikosomatik yang harus mendapatkan perhatian dan terapi yang tepat. Kadang jika seorang tenaga medis tidak peka dengan kasus tersebut, hal ini hanya dianggap lelah biasa dan diberikan multivitamin secukupnya tanpa ada evaluasi lanjutannya. Jika hal tersebut terjadi, maka sindrom ini tidak akan sembuh, makin lama makin memberatkan dan lama kelamaan akan mempengaruhi kualitas hidup pasien.

Diharapkan setelah membaca tulisan ini, tenaga medis secara khusus dan masyarakat awam secara umum dapat lebih waspada terhadap kasus dengan kelelahan yang lama dan mengganggu aktivitas fisiknya sehari-hari. Penanganan yang tepat, salah satunya dengan terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy) merupakan hal yang sangat penting diberikan untuk perbaikan keadaan pasien.

Sumber dr. Meldy Muzada Elfa

 


TAGS   kedokteran / kesehatan /


Comment

Tulisan Terbaru

Recent Coments