Informasi Seputar Indonesia

Air Terjun yang Menyihir

18 Aug 2016 - 08:32 WIB

Berburu destinasi wisata alam Bali ternyata bikin ketagihan. Mendadak, jiwa petualang saya kembali bangkit.

Air Terjun Kanto Lampo berada di Banjar Kelod Kangin, Desa Beng, Kab. Gianyar, Bali. Letaknya berdekatan dengan Air Terjun Gua RangReng.

Rute menuju Air Terjun Kanto Lampo, jauh lebih “tricky” lagi dari air terjun sebelumnya. Tidak ada papan penunjuk arah di sepanjang jalan raya. Aksesnya masuk ke gang kecil rumah penduduk dan berbelok-belok ke kanan dan kiri. Sekali lagi, bertanya ke penduduk sekitar jauh lebih aman ketimbang menerka-nerka arah (hehehe). Setelah melewati beberapa kelokan, baru terlihat papan penunjuknya. Itu pun ditempelkan secara sederhana.

Parkir kendaraan bermotor, baik roda dua maupun empat, cukup lapang. Bisa menampung hingga belasan unit.

Setiba di sana, kita dikenakan retribusi sebesar Rp 5 ribu rupiah perkepala. Tidak diberi karcis. Pelancong cukup memasukkan uang ke dalam kotak khusus yang telah disediakan di posko penjagaan.

“Ah … Ini mah enteng,” ujar saya dalam hati, menuruni sejumlah anak tangga cor-coran semen yang berundak rapih dengan tingkat ketinggian yang konsisten. Permukaannya tidak licin. Tersedia juga pipa besi untuk pegangan tangan.

 

Di tengah perjalanan, terdapat area untuk menaruh atau menitipkan barang bawaan. Tidak ada kunci loker. Hanya berupa rak terbuka. Jaket, baju ganti, perlengkapan mandi, lebih baik ditinggalkan di sini. Sementara barang berharga di bawa serta.

Di tempat itu pula, para guide beristirahat dan menyambut kedatangan para wisatawan. Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan khusus untuk membilas badan dan mengganti pakaian. Antara wanita dan pria dipisah, tentunya.

Berdasarkan informasi dari Wayan Gading (33), salah seorang guide, air terjun Kanto Lampo berasal dari aliran sumber mata air dan sungai campuhan. Air tersebut akan terus mengalir hingga ke Pantai Lebih.

“Keberadaan Air Terjun Kanto Lampo sebetulnya sudah ada sejak puluhan tahun silam. Tapi baru terkenal setahunan ini lewat jejaring sosial media. Diresmikan tanggal 25 Juli 2015 oleh warga. Sekarang sudah banyak (turis) yang datang ke sini. Tidak hanya domestik, tetapi juga turis mancanegara. Sudah Go Internasional,” ujar Wayan Gading.

Titian Ekstrem

Akses turun di titik ini tergolong ekstrim. Pijakan bebatuan antara satu dengan yang lain tidak sama. Ketinggiannya pun berbeda. Untung permukaannya tidak kelewat licin. Asal berpegangan kuat pada selongsong pipa, akan aman. Tapi tetap saja bikin nyali kaum hawa jadi ciut. Terutama mereka yang phobia ketinggian.

Dari atas hingga ke lokasi air terjun tak begitu jauh. Kami telah sampai di tempat tujuan.

Mendekati air terjun pun bukan perkara gampang. Meski jaraknya cuma sini-situ doang, kita harus tetap berjalan selangkah demi selangkah di dalam air setinggi betis dengan tingkat kehati-hatian tinggi. Masalahnya, ada banyak bebatuan alam berukuran cukup besar di permukaan dasarnya. Ada yang tajam, ada pula yang tumpul. Kalau tidak waspada, tulang kering bakal kepentok. Dan itu rasanya nyeri banget, Sobh! Serius. Anggap saja kita sedang melangkah di tengah-tengah “ladang ranjau darat”.

Sama halnya dengan Air Terjun Gua RangReng, Air Terjun Kanto Lampo juga berundak. Airnya tidak langsung terjun bebas ke bawah, melainkan dipecah dulu. Menghantam tebing-tebing bebatuan. Kalau kita berdiri di dekatnya, kita masih bisa merasakan sensasi “pijatan alam”.

Keinginan memanjat tebing layaknya tokoh Spider-Man memang menggoda hati. Tapi jangan coba-coba. Itu ngerinya warrbyasaah! Permukaan bebatuan yang licin, terjangan air terjun, jarak ketinggian, ditambah lagi tidak adanya pegangan sama sekali, membuat saya berpikir berulang kali. “Enggak deh, makasih, taun besok mau nikah saya,” ucap saya membatin. Tak heran di sana dipasang papan peringatan oleh warga. Siapapun wisatawan, entah itu manusia biasa maupun seorang Peter Parker sekalipun, hanya boleh memanjat sebatas itu.

Lembah yang “Menyihir”

Takjub akan keindahannya. Bener-bener amazing! Belum pernah kami menyaksikan pesona alam yang sebegitu mengagumkannya. Atmosfernya beda. Alam seolah-olah menyambut dan merangkul tubuh kami. Menyatu dengan alam.

Suasana yang tenang, udara berembus sepoi-sepoi, air mengalir kalem manja, kupu-kupu berwarna kuning serta capung-capung kipas berterbangan dengan penuh damai.

Rembesan serta kucuran sumber mata air menyelimuti kedua tebing yang menjulang tinggi dengan gagahnya. Diselingi oleh dedaunan tua yang jatuh perlahan dan terbawa oleh arus sungai. Itu semua bisa teman-teman saksikan di lembah ini. Sementara di sepanjang lembah itu, banyak terdapat bongkahan bebatuan alam yang besar-besar.

Menurut saya, keindahan air terjun hanyalah “teaser”. Titik pesonanya justru terletak pada lembah ini. Kami menghabiskan waktu berlama-lama di lembah ini. Menikmati tiap jengkal bagiannya.

 


TAGS   wisata /


Tulisan Terbaru

Recent Coments